Beach and local fishing boats in EngganoClick for Indonesian text

Enggano, with about 1500 speakers, is spoken on Enggano Island, off the southern coast of Sumatra, Indonesia. Enggano is classified as "threatened": only the elder generation are fully competent and fluent speakers. Many children speak Indonesian and little to no Enggano. Intensified contact with non-Enggano speakers is likely to continue and spread throughout the island, to the detriment of Enggano.

Our work on the Enggano language began with a pilot visit in February 2018, where we met with elders of the five Enggano clans, recorded some traditional stories, and worked with some younger speakers to record some verbal paradigms. We also visited an elementary school and the high school, discussed our project with the headmasters and some of the teachers, and gave presentations about our project to the students.

In 2018-2019 we received funding to continue the project from the Endangered Language Fund (2018-19) and Oxford's John Fell fund (2018-19), and in 2019 we were awarded a research grant by the Arts & Humanities Research Council, UK.   Our AHRC project has several objectives.

The first aim of our project is to document the Enggano language: we will record, transcribe, translate, and analyse a body of traditional stories, conversations, cultural events, and descriptions of everyday tasks in the Enggano language. With the permissions of the speakers, we will make these recordings available on the project web page, and we will deposit the dataset in a standard archive at the end of the project. This will allow the data to be preserved for future research and, for the Enggano community and its descendants, as a record of possibly the last generation of fluent Enggano speakers.

The second aim of the project is to produce a grammar of Enggano in its Austronesian context, thoroughly describing the major structures of the language. Our research will draw on previous work on the language, the dataset that we will collect, and targeted work with Enggano speakers on the details of Enggano language structures. The resulting reference grammar will be valuable as a detailed study of the grammatical structures of the language, particularly to linguists specialising in the Austronesian language family, since it will allow for comparison of the structure of Enggano to corresponding structures in other languages of the region. We intend to publish the grammar through an open-access publisher: this will make our work accessible to researchers in linguistics and related fields worldwide, and in particular to researchers in Indonesia, for whom academic books are sometimes inaccessible or too expensive to acquire.

For linguists, Enggano is an intriguing puzzle: it has been claimed by some linguists to be a member of the Austronesian language family, like many other languages of the region, but by other linguists to be an isolate with no known relation to other languages. We believe that Enggano is an unusual Austronesian language, but further evidence is required to firmly establish the place of Enggano within Austronesian: almost all of the work that has been conducted on the genetic affiliation of Enggano is based on research by the linguist Hans Kähler, conducted on a single seven-month visit in 1937-8. Additional work is needed to test and supplement Kähler's data and to determine how the language has changed in the intervening years. We will devote one or more chapters of the grammar to an exploration of Enggano's genetic affiliation and relation to other Austronesian languages.

Finally, we will work to empower the Enggano community to document and preserve their own language. A central component of this effort is our plan to develop educational materials for teaching the Enggano language in local schools, targeting Years 7-9 (ages 13-15). We will work with local educators and community leaders to develop these materials and to raise awareness of language and cultural endangerment, and with local government institutions to ensure that our educational materials meet local government standards.

Indonesian

Bahasa Enggano, dengan sekitar 1500 penutur, dipakai di Pulau Enggano, yang terletak di lepas pantai selatan Sumatera, Indonesia. Enggano diklasifikasikan sebagai "bahasa-yang-terancam": hanya generasi tua yang sepenuhnya kompeten dan berbicara secara fasih. Anak-anak kebanyakan berbicara dengan bahasa Indonesia dan hanya sedikit yang memakai bahasa Enggano. Kontak yang intensif dengan penutur non-Enggano kemungkinan akan berlanjut dan menyebar ke seluruh pulau, sehingga hal ini akan menyebabkan bahasa Enggano semakin tergusur.

Pekerjaan kami tentang bahasa Enggano dimulai dengan kunjungan awal pada Februari 2018, di mana kami bertemu dengan para tetua dari lima klan Enggano, merekam beberapa cerita tradisional, dan bekerja dengan beberapa penutur/ pembicara yang lebih muda untuk merekam beberapa paradigma verbal. Kami juga mengunjungi sekolah dasar dan sekolah menengah atas, mendiskusikan proyek penelitian kami dengan kepala sekolah serta beberapa guru, dan memberikan presentasi tentang proyek ini kepada para siswa.

Pada 2018-2019 kami menerima dana untuk melanjutkan proyek dari Endangered Language Fund (2018-19) dan Oxford's John Fell Fund (2018-19), dan pada 2019 kami dianugerahi hibah penelitian oleh Arts & Humanities Research Council, Inggris. Proyek AHRC kami memiliki beberapa tujuan.

Tujuan pertama proyek kami adalah untuk mendokumentasikan bahasa Enggano: kami akan merekam, menyalin, menerjemahkan, dan menganalisa kumpulan cerita tradisional, percakapan, peristiwa budaya, dan deskripsi tugas sehari-hari dalam bahasa Enggano. Atas seizin penutur, kami akan memuat rekaman-rekaman ini di halaman web penelitian, dan kami akan menyimpan kumpulan data tersebut dalam arsip standar pada akhir penelitian. Hal ini akan memungkinkan penyimpanan data untuk penelitian selanjutnya dan, untuk komunitas penutur Enggano serta keturunannya, hal ini sebagai suatu bukti rekam dari (kemungkinan) generasi terakhir penutur yang fasih berbahasa Enggano.

Tujuan kedua dari proyek ini adalah untuk menghasilkan tata bahasa Enggano dalam konteks Bahasa Austronesia, yang secara menyeluruh menggambarkan struktur utama bahasa tersebut. Penelitian kami akan mengacu pada pekerjaan penelitian yang dilakukan sebelumnya tentang bahasa ini, kumpulan data yang akan kami kumpulkan, dan pekerjaan yang ditargetkan dengan penutur Enggano pada detail struktur bahasa Enggano. Referensi tata bahasa yang dihasilkan akan berguna sebagai studi rinci tentang struktur gramatikal dari bahasa ini, terutama untuk ahli bahasa yang berfokus dalam rumpun bahasa Austronesia, karena akan memungkinkan untuk melakukan perbandingan antara struktur Bahasa Enggano dengan struktur yang sesuai dalam bahasa lain di wilayah tersebut. Kami bermaksud untuk menerbitkan tata bahasa ini dengan cara akses terbuka (open-access publisher): ini akan membuat karya kami dapat diakses oleh para peneliti di bidang linguistik dan bidang terkait di seluruh dunia, dan khususnya bagi para peneliti di Indonesia, yang terkadang buku-buku akademis tidak dapat diakses atau terlalu mahal untuk diperoleh.

Bagi para ahli bahasa, Enggano merupakan suatu permasalahan yang menarik: Bahasa Enggano diklaim oleh beberapa ahli bahasa sebagai anggota rumpun bahasa Austronesia, seperti banyak bahasa lainnya di kawasan itu, tetapi oleh ahli lainnya dianggap sebagai suatu bahasa terisolasi yang tidak diketahui hubungannya dengan bahasa lain. Kami percaya bahwa Enggano adalah bahasa Austronesia yang tidak biasa, akan tetapi diperlukan bukti lebih lanjut untuk secara jelas menempatkan Enggano dalam rumpun bahasa Austronesia: hampir semua pekerjaan yang telah dilakukan pada afiliasi genetik Enggano didasarkan pada penelitian oleh ahli bahasa Hans Kähler, yang dilakukannya sendiri pada kunjungan tujuh-bulan di tahun 1937-8. Diperlukan pekerjaan tambahan untuk menguji dan melengkapi data Kähler serta menentukan bagaimana bahasa telah berubah di tahun-tahun berikutnya. Kami akan mengacu pada satu atau lebih bagian dari tata bahasa Enggano untuk mengeksplorasi afiliasi genetik Enggano serta hubungannya dengan bahasa Austronesia lainnya.

Akhirnya, kami akan berupaya memberdayakan komunitas warga Enggano untuk mendokumentasikan dan melestarikan bahasa mereka sendiri. Komponen sentral dari upaya ini adalah rencana kami untuk mengembangkan materi pendidikan untuk pengajaran bahasa Enggano di sekolah-sekolah lokal, dengan target Kelas 7-9 (usia 13-15). Kami akan bekerja dengan tenaga pendidik lokal dan tokoh masyarakat untuk mengembangkan materi ini dan untuk meningkatkan kesadaran akan bahasa dan budaya yang terancam punah, serta bekerjasama dengan lembaga pemerintah daerah untuk memastikan bahwa materi pendidikan kami memenuhi standar pemerintah daerah itu sendiri.